Minggu, 15 November 2009

jombang koiro -jombang chicago.

Syamsul bahri mudofir, Jombang-koiro dan Jombang-Chicago, Tiga serangkai,2004, Hal 146

Isi Buku

Kita boleh curiga kepada kimia tanah dan air yang ada di Jombang selatan yang membesarkan Nurcholish majid dan Abdurrahman wahid, dan Asmuni, demikian kata Ehma dalam sebuah kolomnya. Tulisan itu hendak mengatakan Cak Nur, Gus Dur, dan Asmuni, telah menjadi tokoh nasional karena kiprah dan pemikiran islamnyayang tampil beda (baru, kontrofersial, dan inklusif ).

Membicarakan sebuah pemikira tidak bisa berlepas diri dari hal-hal yang melatarbelakangi kontruksi pemikiran itu. Pemikiran Cak Nur dan Gus Dur lebih dari kontruksi lingkungan global yang sedang tumbuh menuju modernitas. Hal ini berarti masyarakat akan terus-menurus mungalami perubahan karena dampak global yang di hadapi masyaraka, secara sosiologis perubahan-perubahan yang ada di masyarakat adalah proses alamiyah yang berkelanjutan yang di tandai tatanan sosiokultural lama dan muncul sosiokultural yang baru. Perubahan-perubahan ini akan mempengaruhi pemikiran dan prilaku sebuah kelompok sosial di masyarakattermasuk perubahan dalam pemikiran dan prilaku agama.

Dlam prespektif muslim, Islam adalah agama yang meliputi seluruh dimensi kehidupan karena dalam pesan-pesan moralnya memuat ajaran mengenai bagaimana menjalani kehidupan yang tersusun sebagai rangkaian fungsionl antara kuhidupan duniawi dan uhrawi. Dalam kontek ini isalam adalah agama yang mampu mencapai penampilannya sehingga bisa menjadi sumber inspirasi dalam masyarakat modern yang didukung oleh budaya yang ada sehingga dapat menerapkan peranan tranformatif.

Gerakan pembahruan islam ini di lakukan oleh Nurcholist Majid atau yang lebih akrab sapa Cak Nur, dan Aburrahman Wahid atau Gus Dur ditandai dengan pamikiran kosmopolitan atau aliran neomoderisme. Mereka beranggapan bahwa, upaya pembahruan keagamaan di angap perlu karena secara sosiologis agama mempuyai peranan penting dalam masyarakat.

Nurcholist majid dan Gus Dur memiliki pemikiran dan gerakan tersendiri dalam melakukan rencerahan terhadap umat islam bagaimana umat islam menghadapi peradaban modernisasi dan globalisasi dalam skala yang lebih luas, diungkapkan tawaran itu muncl dal dau wajah sekulerisasi pemikiran dan idiologisasi agama.. Nurcholist Mjid mengajarkan sekulerisasi dalam pengertian sosiologis. Yaitu memanfaatkan akal yang bersifat duniawi sehingga secara efektif dapat berhasil guna dalam kesejahteraan manusia. Dalam hal ini Cak Nur menolak sekulerisme karena dipandangnya lebih mirip dengan agama. Semantara itu Aburrahman Wahid berpandangan sekulerisasi lebih positif apabila nilai-nilai humanisme yang berbasis agama. Karena karakter inilah lalu keduanya disebut atau dikatagorikan kedalam aliran neomodernisme, sebuah aliran yang memadukan nilai-nilai modern, tetapi tetap setia pada kekayaan tradisi.

BIOGRAFI GUS DUR DAN PILAR-PILAR PEMIKIRAN UNIVERSALISME DAN KOSMOPLITANISE PERADAPAN ISLAM.

Nama lengkapnya adalah Aburruhman Ad-Dahil berarti sang penakluk, sebutan Ad-Dahil dalam perjalanan tidak cukup dikenal sehingga diganti menjadi Wahid dan kemudian lebih akrab disapa dengan Gus Dur.

Aburrahman Wahid lahir di Denanyar Jombang pada tanggal 4 Agustus 1940, dari ayah yang bernama K.H. Wahid Hasyim, sebagaimana anaknya K.H. Hasyim Asy’ari pendiri pondok pesantren Tebu ireng.

Sejak kecil Aburrahman Wahit tergolong anak yang hobi membaca,yang di baca tidak hanya cerita-cerita tapi filasat,sosial-politik, dia juga hobi maen catur, musik, sepak bola, dan menonton film-film Prancis.

Aburrahman Wahid masuk sekolah tingkat dasar tahun 1946. Ketika kecil dia pernah di titipkan di Jerman di sini dia belajar musik klasik. Pada tahun 1953-1957, Gus Dur menempuh studi di sekolah menegah ekonomi pertama.Tahun 1957-1959 nyantri tegalrejo Magelang. Tahun 1959-1963 mu’alimat bahrul ulum tambak beras, Jombang. Tahun 1964, Abdurrahman Wahid berangkat ke Koiro di universitas al-azhar, akan tetapi dai kecewa karena dirasa cara pengajarannya masih tradisional seperti di pesantren, lulu pada Tahun1966-1970, Abdurahman Wahid pindah di Bahgad di Fakultas Seni Univesitas Bahdad, Gus Dur mengakui elajar di Bahdad lebih dinamis dan lebih sekuler dan kebarat-baratan. Tahun 1978 pidah ke Jakarta dan masuk ke pondok pesanteren cianjur. Tahun 1982-1985 diangkat menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Dan Tuhun 1991 mendirikan Pokja Forum Demokrasi ( Fordem).

Pemikiran kosopolitan yang dikemukakan Abdurrahman Wahid adalah pandangan yang perlunya refomulasi subtansial dari peradapan yang ada, kerangka institusiaonal, moral, spiritual, dan etika sosial guna merespon hak-hak dasar universal, menghormatan agama, kultur lian yang menyerap sisi politik. Islam kosmopolitan menurutnya ada inklusif, pengakuan adanya pluralisme, budaya dan heterogenitas politik sehingga umat islam bisa berdialok dengan peradapan global dan bersifat kritis, dan mengoreksi budaya sendiri.

Di antara perhatian islam yang dikemukakan Abdurrahman Wahid sebagai berikut.

1.HUMANITARIANISMAE

Humanitarianisme merupakan sikap toleran dan memiliki kepedulian terhadap kerukunan sosial. Pandangan Humanitarianisme menitikberatkan pada kebebasan individu untuk menyatakan pendapat, ekpresi, berkeyakinan, keimanan, dan kemerdekaan untuk berserikat.

Gus Dur beranggapan, hanya denagan semagat Humanitarianisme inilah akan tercipta solidaritas sosial karena unsur-unsur utama kemanusiaan dan demokrasi berada di atas sekulerisme agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar